Cerita Panas Akhir Yang Indah Dari Sebuah Permainan Sex

Posted on

Selamat datang di Cerita Panas Persembahan filmpanas. saat ini Team Cerita Panas ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Panas Akhir Yang Indah Dari Sebuah Permainan Sex. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Panas Akhir Yang Indah Dari Sebuah Permainan Sex

agen domino99

Cerita Panas Akhir Yang Indah Dari Sebuah Permainan Sex

Pada hari Minggu aku dan temanku janjian akan ke salon untuk memotong rambut. Kami janjian ketemu di salon itu jam 10:00 wib. Seperti halnya salon-salon biasa, suasana salon ini normal tidak ada yang luar biasa dari tata ruangnya serta kegiatannya. Pada pertama kali aku masuk, aku langsung menuju ke tempat meja reception, di sana aku mengatakan niat untuk potong rambut. Seorang wanita cantik yang duduk di balik meja reception mengatakkan agar aku menunggu sebentar sebab sedang sibuk semua. Sambil menunggu, mataku melihat-lihat sekitar siapa tahu ada temanku, tapi tidak terlihat ada temanku di antara semua orang tersebut. Mungkin dia belum datang, pikirku.

Kuakui, hampir semua wanita yang bekerja di salon ini cantik-cantik dan putih dengan postur tubuh yang proporsional dan sangat seksi. Mereka berumur sekitar 20-30 tahun. Aku jadi teringat dengan omongan temanku, Susi, bahwa mereka bisa diajak kencan. Namun aku sendiri masih ragu sebab salon ini benar-benar seperti salon pada umumnya.

Hampir 15menit aku menunggu akhirnya aku dipanggil oleh reception bahwa aku sudah dapat potong rambut sambil menunjuk ke salah satu tempat yang kosong. Aku pun langsung menuju ke arah yang dia tunjuk. Beberapa detik kemudian seorang wanita muda nan cantik mendekatiku sambil memegang rambutku.

“Mau potong model apa mas?” katanya sambil melihatku lewat cermin dengan tetap memegang rambutku yang sudah agak panjang.

“Dirapiin aja ya mbak” jawabku singkat.

Seperti halnya di tempat cukur rambut pada umumnya, aku pun diberi penutup pada seluruh tubuhku untuk menghindari potongan-potongan rambut. Dimenit-menit kami tidak saling berbicara rasanya begitu kaku dan dingin. Aku hanya diam saja dan dia sibuk mulai memotong rambutku. Sangat tidak enak rasanya dan aku pun mencoba untuk mencairkan suasana.

“Hmmm…mbak sudah lama kerja disini?” tanyaku

“Gak juga sih mas, kira-kira sudah mapir setahun, ini masnya baru sekali ya potong disini?” jawabnya sambil tetap memotong rambut.

“Iya mbak, kemarin kebetulan aku lewat sini dan lihat ternyata ada salon dan juga rambutku udah agak panjang ya udah aku coba potong disini. Ni juga aku janjian sama temenku tapi dia belum datang” jawabku.

“Oouuww…” jawabnya singkat.

“Woiii…”terdengar suara temanku sambil menepuk pundak.

“Ah kamu baru datang, kemana aja?” tanyaku.

“Sory, tadi kena macet…biasa hari minggu jalanan rame…aku kesan dulu ya” jawabnya sambil berlalu.

Setelah ngobrol kesan kemari akhirnya kami dekat, belakangan aku tahu namanya Yuli. Usianya 23 tahun. Dia asli Makassar. Di Jakarta dia kost di daerah dekat dengan temannya bekerja. Dan kahirnya kami pun sepakat untuk ketemuan di luar pada hari senin. Karena menurut peraturan salon kalau hari senin salonnya tutup.

Setelah aku selesai, aku memberinya tips sekedarnya dan aku menanyakan apakah dia mau aku ajak makan. Dia pun mengiyakan ajakanku. Dia menuliskan pada selembar secarik kertas kecil nomor HPnya. Sambil menunggu Susi, aku meneruskan ngobrol dengan Yuli, aku sempat diperkenalkan oleh beberapa temannya yang bernama Meli, Nisa dan Peni. Ketiganya cantik-cantik tapi Yuli tidak kalah cantik dengan mereka baik itu wajahnya ataupun tubuhnya. Meli, berambut agak panjang dan pada beberapa bagian rambutnya dicat kuning. Nisa, orangnya agak pendek, toketnya sebesar punya Yuli namun karena postur tubuhnya yang agak pendek sehingga toketnya terlihat montok, membuat ngiler semua laki-laki untuk menikmatinya. Sedangkan Peni, terlihat sangat merawat tubuhnya, ia begitu mempesona, lingkar pinggangnya yang sangat ideal dengan tinggi badannya, pantatnya dan toketnya  sangat proporsional.

Hari seninnya, aku dan Yuli ketemu di tempat yang telah disepakati. Setelah makan siang, kami berdua pergi nonton ke bioskop. Benar-benar cantik sekali ini orang, batinku mengagumi kecantikan Yuli yang waktu itu mengenakan kaos ketat berwarna pink dan dipadu dengan celana jeans ketat serta sandal yang tebal. Kami serius mengikuti alur cerita film itu, hingga akhirnya semua penonton dikagetkan oleh suatu adegan. Yuli tampak kaget. Entah ada setan dari mana, secara reflek aku memegang tangan kanannya. Lama sekali aku memegang tangannya dengan sesekali meremasnya dan dia diam saja.

Singkat cerita, Setelah kelar nonton, aku mengantarkan dia pulang ke kostnya, di tengah jalan Yuli mengajakku untuk berjalan-jalan dulu. Kuturuti permintaanya, kuputuskan untuk naik tol dan putar-putar kota Jakarta. Sambil menikmati musik, kami saling berdiam diri, hingga akhirnya Yuli berkata,

“Ferdi, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, memang sih ini bisa dibilang ini terlalu cepat…tapi ini kukatakan jujur dari dalam hatiku bahwa aku sayang kamu…”

Bak disambar petir mendengar perkataan Yuli barusan dan secara reflek aku langsung menengok ke kiri melihat wajah Yuli, tampaknya dia serius dengan apa yang barusan ia katakan. Dia menatapku tajam.

“Aku serius Yu?” tanyaku sambil kembali konsentrasi ke jalan.

“Nggak tahu kenapa aku merasa bahwa kamu nggak seperti laki-laki yang pernah aku kenal sebelumnya, kamu tuh baik, ramah dan penuh perhatian. Aku mau setelah kita pulang nanti kita masih tetap bisa berhubungan, aku gak mau kehilangan kamu” jawabnya panjang lebar.

“Aku sebenarnya juga suka sama kamu Yul…tapi kamu gak keberatan kan kalau kita gak pacaran dulu?” tegasku.

“Ya gimana lagi, kalau itu mau kamu ya aku nurut aja, boleh gak aku menciummu?” tanyanya.

Rasanya jantungku berhenti berdetak ketika Yuli berkata demikian.Saat aku menengok ke kiri melihat wajahnya yang bulat dengan bola mata yang berwarna coklat, dia sedang menatapku tajam dan serius sekali.

“Boleh kog…” jawabku sembari tersenyum.

 

Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengambil posisi untuk mencium pipi kiriku. Dia menciuman pipi kiriku sambil memeluk dan etah disengaja tau tidak toketnya menempel di lenganku. Hmmm empuk sekali, mantab banget toketnya. Aku seketika jadi terangsang dan secara otomatis batang penisku pun langsung tegang. Dengan pelan sekali, Yuli berbisik, “I LOVE YOU,” dan dia kembali mencium pipiku dan tetap menekan toketnya pada lengan kiriku. Konsentrasiku buyar, sepertinya aku benar-benar sudah terangsang dengan perlakuan Yuli dan beberapa kendaraan yang melaluiku melihat ke arahku menembus kaca filmku yang hanya 50%.

“Kamu pengin ga Fer???” tanyanya pelan.

Belum sempat aku menjawab tangan kirinya mulai mengelus-elus badanku dan mengarah ke bawah, aku sudah benar-benar terangsang. Dan sekali lagi Yuli berbisik padaku,

“Ferdi sayang aku tau kamu sudah mulai terangsang, boleh gak kuelus penismu?”

Aku Cuma menjawab dengan anggukan. Lalu dibukalah celana panjangku dengan tangan kirinya, dia agak kesulitan pada saat ingin membuka ikat pinggangku sebab dia hanya menggunakan satu tangan. Aku bantu dia membuka ikat pinggang setelah itu aku kembali memegang setir mobil. Dia mulai mengelus-elsu penisku yang sudah sangat mengeras dari luar CD. Tidak lama kemudian ditelusupkan telapak kirinya ke dalam dan digenggamlah kemaluanku.

“Aaahhh…” desahku pelan. Yuli semakin berani dengan menciumi bibirku dari sebelah kiri lalu turun ke bawah. Dia cium dan menjilati leherku dan dia sempat berhenti di bagian dadaku, mungkin ia menikmati aroma parfum yang kupakai. Ciumannya semakin turun ke bawah. Yuli mencoba untuk mengocok batang penisku.

Kini ciumannya beralih di kepala penisku. Kedua tanganku tak kusadari sudah mencengkeram setir mobil. Setiap jilatannya kurasakan bagaikan kenikmatan yang tak pernah usai, begitu nikmat, begitu perlahan. Setiap kali kutundukkan wajahku melihat apa yang dilakukannya setiap kali itu pula kulihat Yuli masih tetap menjilati penisku dengan penuh nafsu. Dia mulai membuka bibirnya, dengan berhati-hati dia memasukkan kepala penisku ke dalam mulutnya tanpa tersentuh sedikitpun oleh giginya. Kurasakan kepala penisku menyentuh lidahnya. Kurasakan kehangatan yang luar biasa nikmatnya mengguyur sekujur tubuhku. Kunikmati setiap jilatan dan hisapan yang dilakukan Yuli padaku.

Aku mencoba meraba punggungnya dengan tangan kiriku, kuelus dengan lembut lalu mengarah ke bawah. Kuremas toketnya sebelah kanan dari luar baju. Kemudian kubuka satu persatu kancing rompinya, Sambil tetap mengulum, tangan kanannya bergerak menyentuh tanganku, ia tarik baju ketatnya dari selipan celana panjangnya. Dipegangnya tanganku dan diarahkannya ke dalam. Di balik baju ketatnya, kuremas toketnya yang masih terbungkus BH. Kuremas satu persatu toketnya sambil mendesah menikmati kuluman pada penisku.

“ooohh….” Desahku menimati kuluman Yuli yang makin ganas sambil kuturunkan BH-nya yang menutupi tpketnya sebelah kanan, aku meraih putingnya yang sudah mengeras. Kupilin dengan lembut.

“Sssthh…aaahhh…” desahnya saat melepas kuluman. Menjilat, menghisap, naik turun. Begitu seterusnya berulang-ulang. Aku tak mampu lagi melihat ke bawah. Tubuhku semakin lama semakin melengkung ke belakang, kepalaku sudah terdongak ke atas. Kupejamkan mataku. Yuli begitu luar biasa melakukannya. Tak sekalipun kurasakan penisku menyentuh giginya. Gila, belum pernah aku dihisap seperti ini, pikirku. Pikiranku sudah melayang-layang jauh entah ke mana.

“Ohh Yuli, kamu begitu luar biasa…nikmat sekali sayang…” bisikku sambil kuelus rambutnya. Yuli hanya tersenyum manis dan berkesan manja.

“Kalau kamu udah gak tahan pengen crot, keluarin aja Fer gak usah ditahan” kata Yuli, rupanya dia mengerti kalau aku sedang berjuang untuk menahan ejakulasiku.

“Aaahhh…ehhhmmm…” desahku menahan ngilu.Bukan kepalang nikmat yang kurasakan, tubuhnya bergerak tidak karuan, seiring dengan gerakan kepalanya yang naik turun, kedua tangannya tak henti-henti meraba dadaku, terkadang ia memilin kedua puting susuku dengan jarinya.

Semakin lama gerakannya makin cepat. Aku sudah berusaha semaksimal untuk menahan ejakulasi. Kualihkan perhatianku ke arah bawah. Kubuka kancing celananya. Agak lama kucoba membuka dan akhirnya terlepas juga. Pelan-pelan kuselipkan tangan kiriku di balik CDnya. Lalu Yuli mengubah posisinya. Tadinya ia yang hanya bersangga pada satu sisi pantatnya saja, sekarang ia renggangkan kedua kakinya. Dengan mudah aku dapat menyentuh memeknya.

Kumainkan klitorisnya, sesekali kumasukkan jari telunjukku ke dalam lubang memeknya. Aku jelajahi seluru bagian di dalam memek Yuli sembari menikmati setiap kuluman Yuli. Rasanya sudah beberapa tetes spermaku keluar. Aku benar-benar dibuat mabuk kepayang olehnya.

Pada saat jariku masuk ke dalam lubang memeknya Yuli tampak melengkuh dan mendesah pelan. Semakin lama semakin cepat aku menyodok memeknya dengan kedua jariku. Entah sudah berapa orang yang melihat kegiatan kami terutama para supir atau kenek truk yang kami lewati, namun aku tidak peduli. Kenikmatan yang kurasakan saat itu benar-benar membiusku sehingga aku sudah melupakan segala sesuatu. Sungguh dashyat kenikmatan yang kurasakan. Beberapa kali tubuhku bergetar namun dia tetap pada sikapnya. Sesekali ia masukkan semua batang penisku di dalam mulutnya dan dia mainkan dengan lidahnya di dalam.

“Aaargghh…Yuliii..terus sayaaang…enak sekaliii…”desahku sambil melepaskan tangan kiriku dari lubang memeknya. Kupegang kepalanya mengikuti gerakan naik turun.

“Yuliii…aku sudah gak kuaaat…..” kataku agak lirih menahan ejakulasi. Namun Yuli tetap santai dan gerakkannyapun makin cepat dan beberapa kali dia buka matanya namun tetap mengulum dan terdengar suara-suara dari dalam mulutnya. “Croooottt..ccrooott..crooottt…”

“Ooooohhh…aaahhhh…” desahku keras diiringi dengan keluarnya sperma dari dalam batang penisku di dalam mulutnya. Keadaan mobil kami saat itu sedikit tersentak oleh pijakan kaki kananku. Aku menikmati setiap sperma yang keluar dari dalam penisku hingga akhirnya habis. Yuli masih tetap menjilati penisku dengan lidahnya.

Lidahnya menyapu seluruh bagian kepala penisku. Arrgghh…nikmat sekali rasanya. Setelah membersihkan seluruh spermaku dengan lidahnya, Yuli lantas bangkit. Saat kulihat wajahnya, tampak ada beberapa spermaku menempel di sebelah kanan bibirnya dan pipi kirinya. Aku bergerak memperbaiki posisi dudukku, perlahan-lahan. Sambil tetap digenggamnya batang penisku yang sudah lemas, Yuli beranjak ke atas melumat bibirku yang masih terasa spermaku. Sekian detik kami bercumbu dan kemudian Yuli duduk ke posisi semula dan merapikan bajunya kembali Aku pun merapikan pakaianku sekedarnya. Aku kenakan celana panjangku namun tidak kumasukkan kemejaku. Dan kami lantas melanjutkan perjalanan kami.

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku main ke kost Yuli dan pada saat itu pula kami resmi jadi sepasang kekasih. Awal bulan Mei lalu Yuli kembali dari Makassar selama 2 minggu. Sekembalinya dari Mkasaar Yuli pun tak lagi kerja di salon tersebut. Yuli diterima bekerja disebuah perusahan swasta sebagai marketing. Tak lama pacaran aku lantas meminang Yuli sebagai istriku, kami hidaup seatap di daerah Jakarta.

Kami berdua hidup bahagia, menikmati setiap hari yang kami lalui bersama. Aku sungguh tidak peduli dengan asal-usulnya pekerjaan Yuli, sebab aku sudah dibikin gila dengan permainan seks yang kami lakukan setiap hari.

Google Trends:

short url