Cerita Panas Kado Ultah Dari Tante Rosa

Posted on

Selamat datang di Cerita Panas Persembahan filmpanas. saat ini Team Cerita Panas ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Panas Kado Ultah Dari Tante Rosa. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Panas Kado Ultah Dari Tante Rosa

Cerita SEX   Cerita Dewasa

agen dominoqq

Cerita Panas Kado Ultah Dari Tante Rosa

Setiap hubungan yang kualami pasti selalu berakhir sex, namun hubunganku bersama perempuan-perempuan yang pernah kupacari gak pernah berakhir dengan mulus. Aku sendiri berhubungan dengan seorang perempuan paling lama hanya 6 bulan, dalam dalam waktu 6 bulan tersebut bisa kupastikan aku banyak menikmati tubuh perempuan-perempuan yang kupacari. Setiap behubungan gak hanya satu wanita aja yang kupacari, bahkan aku pernah menjadi simpanan seorang tante kaya raya, pernah juga aku muasin dosenku yang seorang janda kesepian dan menikmati memek perawan adalah yang paling sering kudapatkan dan masih banyak lagi seterusnya hingga sekarang.

Sampai pada akhirnya kutemukan seorang perempuan yang sangat mengerti aku dan semua sifat-sifatku. Aku menikahi seorang perempuan yang juga gila dengan sex, sama dengan kebiasaanku. Yang pasti aku dan istriku ini sangat cocok dengan berbagai fantasi sex dimana saja kami inginkan. Sifat itu yang mungkin membuat hubungan kami menjadi langgeng sampai sekarang. Namun kali ini aku akan menceritakan tentang pengalaman sex-ku dengan tanteku sendiri, ketika itu aku baru berumur sekitar 19 tahunan. Begini ceritanya….

Ketika aku masih brseragam abu-abu, aku tinggal dirumah tanteku, karena orangtuaku menitipkanku dirumah tanteku, karena kedua orangtuaku bekerja dikalimantan. Tanteku ini namanya tante Rosa, orangnya sangat montok banget, tante Rosa gak terlalu tinggi hanya sekitar 165 cm, dengan berat badan sektar 59kg agak gemuk namun gak gemuk sekali. Buah dadanya huuuuuh sangat montok sekali, berukuran sekitar 38D setiap kelapa yang disabet toket tanteku ini pasti akan langsung klepek-klepek. Singkat cerita saja deeh.

Kebiasaanku dirumah tante, aku sering disuruh tante untuk mengantarkan kemana saja tanteku akan pergi, sebagai orang yang numpang tinggal, aku selalu nurut saja. Sering kali kurasakan toket yang montok milik tanteku ini selalu menyentuh punggungku, tante Rosa sendiri ini juga gak segan untuk berpegangan dipahaku. Pasti setiap kuantarkan tanteku, burungku ini selalu saja berdiri tegak, gak kuasa menehan dorongan toket tante Rosa. Selain itu kalau sdang dirumah tante Rosa juga selalu berpakaian sangat seksi, malah kadang hanya memakai tengtop aja, hingga terlihat jelas bentuk toketnya yang besar menonjol keluar dari tengtopnya. Saat mau mandi tante Rosa juga hanya menggunakan lipatan handuk aja, pahanya yang mulus terpampang jelas didepan mataku, aku selalu memikirkan bongkahan daging yang ada dibalik handuk. Aku selalu berpikiran mesum, ingin menikmati tubuh tanteku Rosa yang bahenol ini, amun aku selalu menahannya.

Sampai akhirnya pada suatu hari aku sedang merayakan hari ultahku, aku sangat berharap mendapatkan ucapan atau hadiah dari tante Rosa. Namun apa yang terjadi, mendapatkan ucapan saja gak, aku berteriak kesal banget dalam hatiku, yang kuharapkan gak kunjung datang. Sampai keesokan harinya setelah hari ultahku lewat kudapatkan sebuah kejutan dari tente Rosa. Ketika malam tiba kemudian tante Rosa tiba-tiba mendatangiku kekamar dan menanyaiku.

“Kenapa ultahmu gak dirayakan secara khusus??” Tanya tante

“Gak ada uang” jawabku asal-asalan

Kemudian tante Rosa mengusap pipiku.

“Nanti sore kita rayain berdua” ujarnya dengan nada pelan sekali

“Tante mau kasih kado spesial buat kamu” Aku jadi deg-degan

Disekolah, pikiranku ngelantur gak karuan, pelajaranku jadi jeblok banget. Aku sangat penasaran, apa betul tante Rosa mau memberi kado special untukku. Entah kenapa, aku mulai membayangkan yang enggak-enggak. Karena gak sabar, saat jam istirahat, aku ketelpon umum diseberang jalan. Dirumah cuma ada tante Rosa dan sipembantu. Aku hampir-hampir gak bisa ngomong waktu denger suara tante Rosa yang mesra. Dengan lugu, akhirnya aku berterus terang kalau aku sangat penasaran. Kata tante Rosa,

“Selama ini kamu baik sekali sama tante. Jadi, kamu boleh minta apa pun yang kamu mau”

“Kalau tante sendiri mau kasih apa?” tanyaku

“Ya nanti donk, gak sabaran iiih… Pulang aja sekarang kalau udah gak sabar. Bisa kabur, kan?”

“Namun nanti aku ada ulangan”
“Yaudah deeehh terserah kamu”

Aku jadi tambah penasaran. Obrolan ditelepon membuat pikiranku bertambah jorok. Entah bagaimana, filingku erkata kalau tante Rosa “naksir” aku. Maka, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung pulang saat itu juga. Kukebut motorku. Tante Rosa tersenyum saat membukakan pintu.

“Si Mbok baruuuuu aja ke pasar” ujar ante Rosa tanpa kutanya

Seperti memberi isyarat bahwa situasi rumah benar-benar aman untuk kami. Aku jadi tambah deg-degan. Pikiran jorokku bertambah. Lebih-lebih ketika itu tante Rosa mengenakan daster yang potongannya sangat seksi.

“Kadonya mana?” tanyaku gak sabar

“Nanti dulu donk” jawab tante Rosa

Kemudian aku disuruh menunggu diruang duduk keluarga, sementara itu tante Rosa masuk kekamar. Aku duduk disofa sambil membuka sepatu. Dan gak lama kemudian, tante Rosa keluar kamar, namun aku gak melihat dia membawa kado. Sambil memandangi tante Rosa berjalan menuju arahku, aku berpikir, “Ngapain dia tadi masuk kamar?” dan aku menemukan jawabannya beberapa saat kemudian, saat kelihatan olehku kedua putting susunya membayang dibalik daster. Rupanya dikamar tadi tante Rosa cuma membuka BH.

“Terus…mana kadonya?”

“Merem donk” kata tante Rosa sambil duduk disebelahku

Aku menurut saja dan kupejamkan mataku. Jantungku semakin berdetak gak karuan. Kurasakan kelelakianku mulai bangkit, burungku mulai mengeras. Lebih-lebih saat kurasakan nafas tante Rosa dekat sekali dengan mukaku. Aku ingin membuka mata, namun takut. Maka aku terus memejamkan mataku rapat-rapat, sampai kurasakan tante Rosa mengecup pipiku. Lembut sekali. Kiri dan kanan.

“Itu kadonya?” tanyaku memberanikan diri beberapa saat kemudian

Tante Rosa tersenyum,

“Itu kado spesial dari tante” katanya lembut, namun kalau kamu mau yang lain, kamu boleh minta apapun yang kamu mau”

“Aa…aa…aku… gak berani…” jawabku terbata-bata

“Padahal kamu pingin sesuatu kan???” tante Rosa mendesak sambil merapatkan tubuhnya

Aku semakin deg-degan. Tonjolan payudaranya yang montok menekan lembut lenganku. Aku gak berani membalas tatapan matanya.

“Bilang donk…” suara tante Rosa semakin lembut dan wajahnya semakin dekat, aku jadi semakin gak berani mengangkat wajah. Sampai tiba-tiba kulihat tangan tante Rosa merayap dan meraba selangkanganku.

Aku sangat terkejut, bercampur malu karena ketahuan karena ketika itu aku sudah “ngaceng”. Aku gak tahu bagaimana ekspresi tante Rosa waktu itu, karena aku tetap belum berani melihat wajahnya, namun yang jelas tante Rosa malah memijit-mijit tonjolan burungku yang tentu saja menjadi semakin keras.

“Tante… aku…” Aku semakin tidak enak hati, sementara nafsuku semakin tinggi

“Dim, kamu ini sudah gede sekarang” bisik tante Rosa

“Sudah 19 tahun itu sudah dewasa

“Maksud tante, aku boleh”

“Kamu boleh apapun yang kamu mau, Sayang”

Berkata begitu, tante Rosa menerkam mulutku dengan bibirnya. Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut tante Rosa yang semakin liar melumat-lumat mulutku, mendesak-desaknya kedalam dengan buas. Sementara jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku, terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku. Gak karuan lagi, aku jadi sangat terangsang. Sekarang aku berani membalas ciuman liar tante Rosa. Tampaknya tante Rosa gak mau mengalah, bahkan tante Rosa tambah liar lagi. Skaerang mulut tante Rosa merayap turun kebawah, menyusuri leher dan dadaku. Kemeja seragamku entah kapan dibukanya, tahu-tahu sudah terbuang dilantai. Beberapa cupangan yang meninggalkan warna merah menghiasi leher dan dadaku. Keudian dengan liar tante Rosa membawaku turun kekarpet, dibukanya celana seragamku, demikian pula CD-ku dilucutinya dengan gerakan tergesa-gesa. Dan alhasil sekarang aku menjadi bugil.

“Oouuuuhhh…..Diiiimmaasss…..Tante gak nyangka, burungmu bagus juga…..” seru bergairah tante Rosa sambil memasukkan batang k0ntolku kedalam mulutnya dan mulailah tante Rosa mengulum dan sesekali dibarengi dengan menyedot-nyedot. Sementara tangan kanannya mengocok batang k0ntolku, sedang jemari tangan kirinya meremasi buah zakarku. Aku hanya mengerang-erang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya.

Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot daster tante Rosa, sehingga tante Rosa sekarang tinggal mengenakan CD saja. Aku sangat terkejut saat melihat ukuran toketnya. Luar biasa besarnya. Bulat, montok, masih sangat kencang walaupun dia sudah beranak 1. Nafsuku jadi semakin gak terkendali. Tanpa malu-malu, aku merintih-rintih sembari mengatakan bahwa aku merasa enak luar biasa. Sampai akhirnya kulihat tante Rosa menurunkan CD-nya sendiri. Dan sekarang tante Rosa telanjang bulat didepanku! Aku sempat berpikir waras, kami gak boleh melakukan semua ini! Namun waktu itu tante Rosa sudah menduduki kedua pahaku yang mengangkang. vaginanya yang berbulu sangat rimbun itu tepat menempel dik0ntolku. Dan akhirnya aku hanya bisa menelentang pasrah.

“A..a..aku… tttakut….Tante…” kataku saat kurasakan tante Rosa mulai menyusup-nyusupkan batang k0ntolku kedalam lubang memeknya yang basah. Tante Rosa gak peduli, kurasakan ujung batang k0ntolku sudah masuk. Namun bagaimanapun tante Rosa mengalami kesulitan karena aku masih setengah hati. Tante Rosa menciumi mukaku. Bibirku dilumatnya kembali, kemudian lidahnya menjulur-julur menjilat-jilat. Sementara itu, tangan kanannya terus berusaha menjejal-jejalkan batang k0ntolku kedalam lubang vaginanya.

“Dimas…Please… Kamu sudah gede, kamu sudah boleh kok” desah tante Rosa tepat ditelingaku

Entah bagaimana, nafsuku kembali berkobar. Burungku yang tadinya mulai agak kendor karena aku ketakutan, sekarang kembali menegang keras. Tante Rosa kegirangan, mukaku diciuminya dengan gemas. Pinggulnya bergerak-gerak sementara tangan kirinya terus menuntun k0ntolku memasuki memeknya. “Uuuugghhh…Nikmat luar biasa sekali”. Aku menggigit bibir. Sleeeppp… terasa k0ntolku melesak semakin dalam. Inci demi inci, sampai akhirnya “Bleeesssss…” masuk semua.

Tanteku yang manis itu mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya. Maju, mundur, kiri, kanan, berputar-putar. Nikmatnya sungguh gak terkatakan. Batang k0ntolku serasa disedot dan dipelintir-pelintir. Aku belum pernah merasakan surga dunia senikmat ini, maka aku gak tahan. Baru beberapa goyangan, tanpa dapat kucegah sedetikpun, aku “muncrat”. Spermaku menyembur-nyembur entah berapa kali, menyirami memek tante Rosa yang kurasakan berkedut-kedut. Itulah untuk pertama kalinya aku mencapai orgasme yang sesungguhnya, setelah sekian lama aku hanya dapat merasakannya dengan “Ngocok” dikamar mandi.

Aku gak tahu bagaimana perasaan tante Rosa waktu itu. Aku juga belum mengerti bahwa waktu itu tante sangat kecewa karena birahinya tidak mencapai puncak. Yang jelas, kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Perasaanku gak karuan. Menyesal, takut, malu, campur aduk jadi satu. Tiba-tiba tante Rosa menangis sesenggukan. Aku jadi semakin gak enak hati. Dengan sok gentle, aku memeluk tubuhnya yang telanjang dari belakang. Aku meminta maaf dan berusaha membujuk. Namun kata tante Rosa, dia justru malu telah menjerumuskanku.

“Namun aku gak nyesel kok tante…” kataku

Tante Rosa memalingkan mukanya menatapku.

“Beneran???” tanyanya

Aku hanya mengangguk. Entah kenapa, tahu-tahu burungku berdiri lagi. Kulihat muka tante Rosa memerah, tante pasti dapat merasakan karena batang k0ntolku yang menegang itu menempel rapat pada pantatnya. Kemudian tante Rosa membalikkan tubuhnya dan kami berpelukan. Entah siapa yang memulai, kemudian kami berciuman bibir dan nafsuku berkobar-kobar lagi.

Tante Rosa mengajakku masuk kedalam kamar. Dengan tubuh telanjang, kami berangkulan menuju kamar tante Rosa dibelakang. Tiba dikamar, tante Rosa rebah duluan diatas ranjang. Aku menyusul. Dua-tiga kali tante Rosa masih bertanya lagi, apakah betul aku gak menyesal dan tidak menganggapnya sebagai perempuan murahan. Kemudian kami berciuman bibir, lama dan penuh nafsu. Kurasakan k0ntolku sudah luar biasa kerasnya, aku siap untuk meniduri tanteku sekali lagi. Namun kata tante Rosa, kali ini aku harus sabar. Aku harus bisa membuat tante Rosa mencapai puncak kenikmatan seperti yang tadi kualami. Maka, tante Rosa mengajariku segala macam teknik merangsang birahi perempuan.

Dimulai dari berciuman. Tante Rosa mengajariku cara-cara memainkan mulut dan lidah. Setelah kuikuti, ternyata memang lebih enak. Kemudian tante menyuruhku menciumi lehernya. Aku berhasil membuat sebuah cupangan, namun tante Rosa lekas-lekas mengingatkan bahwa cupangan dileher akan mudah ketahuan orang. Maka, tante minta aku untuk mencupang payudaranya. Tanpa diminta-pun, aku akan dengan senang hati melakukan itu. payudaranya itu luar biasa bagusnya. Putih, besar, bulat, kencang dan padat. Kuciumi dan kuremas-remas seperti tanpa rasa puas. Dan aku jadi tambah bernafsu karena perbuatanku itu membuat tante Rosa menggelepar-gelepar keenakan. Tante Rosa bahkan jadi seperti gak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Mulutnya mulai mengeluarkan desahan dan rintihannya.

Aku sebenarnya sudah sangat gak sabar, ingin segera memasukkan k0ntolku lagi kedalam lubang memek tante Rosa. Namun tante Rosa belum memberi isyarat untuk itu. Tante Rosa malah memintaku mencumbui selangkangannya dulu.

“Sini…Sayang…Ciumin ini tante …” pintanya sambil berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.

Tanpa membuang waktu lagi, aku terus menyerudukkan mulutku pada celah memek tante Rosa yang merekah. Benar-benat lezat sekali rasanya. Memek tante Rosa mulai kulumat-lumat tak karuan lagi, sedangkan lidahku menjilat-jilat deras seluruh bagian liang memeknya yang telah dibanjiri lendir. Berulangkali kugelitik kltorisnya dengan ujung lidah sambil kukenyot dalam-dalam. Rambut kemaluan tante Rosa sangat lebat. Cupangan merah-pun kucap pada seluruh bagian daging memek tante Rosa yang menggairahkan ini. Tante Rosa hanya menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik tadi, tante Rosa terus-menerus melakukan remasan pada toketnya sendiri sambil sesekali memelintir putting suusunya. Berulang kali mulutnya mendesah-desah dan menjerit kecil ketika mulutku menciumi mulut memeknya dan menarik-narik daging klitorisnya.

“Ooouuuhhhhh…Diiiimmaasss…Enak banget…Sayaaang…Teruuss…Teruuuuussssss….. Please…, yaaaahhhhhh”

Beberapa menit kemudian, aku merayap lembut menuju perut tante Rosa dan terus merapat diseluruh bagian payudaranya. Dengan ganas kusedot putting susunya yang sekarang semakin mengeras dan membengkak. Kembali kubuat beberapa cupangan ditoketnya. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas putting susu tante Rosa secara bergantian, kiri dan kanan. Sekarang aku benar-benar gak tahan lagi untuk menyetubuhi tante Rosa. Tanpa menunggu komando dari tante Rosa, kubimbing masuk k0ntolku pada liang memeknya.

Namun tante Rosa masih sempat mengubah posisi. Seperti yang pertama, kembali tante berada diatas. Ternyata itu memang disengaja oleh tante Rosa karena posisi begitu lebih menguntungkanku. Aku jadi lebih tahan, sebaliknya tante Rosa akan cepat mencapai orgasme. Dan benar saja, tante Rosa langsung menggenjot cepat karena rupanya dia sudah sangat keenakan dan hampir mencapai puncak. Aku menelentang saja sembari meremas-remas toket montoknya yang bergelantungan terkontal-kantil. Dengan sesekali kuangkat pantat mengikuti komando tante Rosa. Gak begitu lama, tante Rosa mengajakku segera membalik posisi.

“Ooouuuhhh.. yeaaah… ayoo.. ayooo… genjot Diimmmm..” teriak tante Rosa ketika merasakan batang k0ntolku mulai menikam-nikam liar memeknya. Dalam posisi diatas, gerakanku lebih leluasa. Aku semakin meningkatkan irama keluar masuk k0ntolku. Tante Rosa hanya berpegangan pada kedua tanganku yang terus meremas-remas toketnya. Kedua kakinya mengangkang lebar, pinggulnya terangkat-angkat seirama dengan hunjaman k0ntolku.

“Blesep… sleeep… blesep..” suara senggama yang sangat indah mengiringi dengan alunan lembut.

Tante Rosa mendesah, mengerang, dan merintih-rintih.

“Aaaarghh…Enak sekali…Diiimmaass…..Tante suka burung kamuhhh… Terus…Sayaaang…Teruuuussssss….., ssssshhhhhh….., aaaaarrggghhhhh….”

Aku semakin bersemangat, kusodok-sodokkan batang k0ntolku semakin kuat dan cepat. Itulah nikmat bersetubuh yang pertama kali kurasakan. Aku masih belum bisa bertahan lama saking enaknya. Hanya beberapa menit, puncak klimaks itu kucapai dengan sangat sempurna, dan “Croooot… crooot… crooooot..” dan pada saat hampir bersamaan, tubuh tante Rosa mengejang, pinggulnya terangkat tinggi-tinggi.

“Oooorrrrgghh.. sssssshhhhh… aaarrrgghhhh..” seru tante Rosa menggelepar-gelepar saat menggapai puncak kenikmatannya.

“Tanteeehhh.…….”

“Oooohhhh…Diiimmmasss…. Teken terus…Tante masih enak…Teken terus…Yaahhh…”

“Dimas kayak mimpi tante….” bisikku polos

“Hmmm…Tante juga…Mimpi disurga… Peluk tante…Sayang…”

Selanjutnya dengan k0ntol yang masih tertancap erat di memek tante Rosa, aku jatuh tertidur dan tante Rosa juga. Kami baru terbangun saat si mbok pulang dari pasar.

Google Trends:

Cerita Hot   Cerita Dewasa