Cerita Panas Teh Hangat Penghilang Perawan

Posted on

Selamat datang di Cerita Panas Persembahan filmpanas. saat ini Team Cerita Panas ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Panas Teh Hangat Penghilang Perawan. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Panas Teh Hangat Penghilang Perawan

agen domino99

Cerita Panas Teh Hangat Penghilang Perawan

Pupuslah sudah harapan Nadin mahasiswi tingkat akhir ini menjaga keperawanannya. Nadin yang saat itu magang disebuah kecamatan, ketika dia bermaksud meminta tanda tangan dia di suguhi teh hangat oleh pak camat dan tidak sadarkan diri lalu diperkosa.

Posisisex-Panggil saja aku Nadin usia 22 tahun aku berkuliah dan kini semester akhir. Aku tinggal di kota dengan saudaraku. Bapak ibukku banting tulang di desa untuk dapat menguliahkan aku supaya aku kelak menjadi orang yang sukses. Aku anak tunggal orangtuaku bekerja sebagai petani. Walaupun aku orang desa penampilanku tidak kalah menarik dengan mereka yang ada di kota.

Aku terlahir sebagai gadis desa yang cantik, orang memanggilku kembang desa. Banyak sekali orang yang ingin meminangku termasuk pak Lurah yang bersatus duda. Ada lagi orang terkaya di desa, setiap hari datang ke rumahku. Tetapi orangtuaku selalu menolak siapapun yang melamar aku. Dia menginkan aku menjadi orang yang sukses.

Maka dari itu aku kuliah jauh agar tidak terpengaruh dengan orang desa yang kebanyakan nikah muda. Begitu aku lulus SMA bapak ibu langsung mengantar ku ke kota untuk mencari sekolah. Apalagi bibi ku tinggal di kota pastinya aku tinggal dengan mereka. Awalnya aku enggan untuk tinggal di kota namun karena terbiasa lama-lama akhirnya betah juga.

Aku ikut dengan bibi ku yang sudah berkeluarga. Suaminya bekerja di luar kota jarang pulang sedangkan anaknya baru berumur 3 tahun. Bibi senang karena aku bisa menjadi teman di kala sepi melanda. Sudah 4 tahun aku tinggal dengan bibi. Sudah seperti anak bibi dan kalau bapak terlambat mengirim uang saku pastinya bibilah yang memberiku uang.

Bibi Vera senang aku tinggal di rumahnya karena aku rajin dan pandai memasak. Jika libur aku selalu membantu bibi mengerjakan pekerjaan rumah. Pagi hari bangun kemudian masak dan berangkat kuliah. Jadi bibi bangun sebisa mungkin semua sudah siap di meja makan. Pernah liburan 1 bulan aku pengen sekali pulang ke rumah namun bibi melarang.

Akhirnya bapak ibu yang datang ke kota untuk menjengukku. Bibi merasa kesepian jika aku pulang jadi mau nggak mau harus standbay di rumahnya. Selama 4 tahun aku tinggal di rumah bibi aku memiliki seorang teman dekat namanya Sandy. Dia temen kulian aku, jika datang ke rumah mengantarku dengan mengendarai mobil. Tetapi bibi kurang suka dengannya karena tingkahnya kurang sopan,

“din…kamu jangan terlalu dekat dengan Sandy sepertinya dia kurang baik buat kami…”

“dia hanyalah teman biasa bi…”

“ahhhh yang bener din??? Teman biasa kok setiap hari main ke rumah bibi curiga deh..”

“iya bi dia teman dekat sih kalau di kampus aku sering sama dia….”

“hati-hati jaga dirimu jangan sampai terjerumus ke dalam hal-hal yang negative apalagi kamu memliki paras yang cantik…” ucap bibi dengan sadis.

“iya bibi… Nadin bisa jaga diri kok tenang aja…”

Sejak saat itu aku jarang mengajak Sandy ke rumah takut bibi marah. Suatu hari aku pergi dengan Sandy dia mengajakku pergi nonton. Ya aku sih mau aja kita berangkat ke tempat biasa nonton. Menunggu sekitar satu jam baru kita masuk ke home teater. Aku tidak menyangka ternyata dia mengajakku untuk melihat film terbaru yang romantis.

Di film itu banyak sekali adegan ciuman dan pelukan aku jadi ngeri. Setelah itu pulang sepanjang perjalanan Sandy mengarah ke hal-hal yang sangat porno. Aku pun turun di jalan aku takut jika terjadi sesuatu denganku. Sejak saat itu aku jarang bertemu dengan Sandy dan ternyata benar ucapan bibi. Apalagi sebentar lagi aku praktek di lapangan.

Itu membuat aku sama sekali tidak bisa bertemu dengannya. Kala itu bulan Juli aku kerja lapangan dan menginap di desa yang terpencil. Di sana aku ditugaskan di kecamatan bagian administrasi. Aku diantar bibi ke kampus , bibi menangis karena harus berpisah denganku untuk satu bulan ke depan. Jam 8 tepat aku naik bus rombongan dari kampus menuju wilayah yang sudah di tentukan itu.

Aku dapat paling jauh dengan kedua temanku Susi dan Indri. Perjalanan ditempuh sekitar 5 jam dan sangat melelahkan.  Sampailah kita di tujuan disan sudah disediakan tempat tinggal. Rumahnya jauh tidak bedekatan dengan tetangga bahkan listrik sering mati dan sinyal tidak ada. Untuk menuju kantor kecamatan kita harus menempuh dengan waktu 1 jam.

Melewati sungai dan jembatan panjang seru sekali. banyak pengalaman yang aku dapatkan ketika praktek disini. Disini kita belajar kerja menjadi karyawan di kantor kecamatan. Aku membantu bagian pembuatan surat bedampingan dengan ruangan pak Camat. Pas awal masuk ke kecamatan aku menjadi usat oerhatian banak sekali orang yang melihatku.

Seperti ada sesuatu yang salah dalam diriku. Aku memakai pakaian yang rapi dan memikat para karyawan yang lainnya. Semua mata tertuju padaku apalagi karyawan yang muda matanya melotot melihatku. Hari pertama menghadap pak Camat kita memberikan surat penugasan dari kampus. Setelah itu kita menempatkan di posisi yang sudah ditentukan untuk kita.

Hari pertama orientasi tempat terlebih dahulu seharian full pengenalan semua karyawan dan ruangan.  Lancar tetapi hari itu pak Camat tidak hadir karena sedang rapat kemudian diwakilkan oleh sekcam (Sekretaris Camat) namanya Pak Bandi. Siang hari kita pulang menuju rumah yang kita tinggali. Persiapkan untuk besok kerja kembali.

Waktu cepat berlalu tak terasa aku sudah berada di desa yang sangat terpencul ini sudah 3 minggu. Tetapi belum juga bertemu dengan Pak Camat. Padahal masih banyak yang perlu di tanda tangani. Sebisa mungkin sebelum pulang harus sudah mendapatkan tanda tangannya. Karena tidak mungkin nantinya aku harus bolak balik kesini hanya untuk meminta tanda tangan saja.

Tepat kurang satu hari aku dan temanku berhasil bertemu dengan Pak Camat namanya pak Siswanto. Kita bertiga menghadap beliau dan menyodorkan banyak sekali kertas. Waktu semaki siang sepertinya tidak bisa jika harus menandatangani sebanyak itu. Punya Susi dan Indri selesai juga tetapi punyaku belum sama sekali. Padahal punyaku ada di urutan teratas,

“Untuk Nadin nanti di rumah dinas saja jam 7 saya tunggu ya…”

“saya pak? Tidak besok saja pak?”

“besok saya rapat di kabupaten, saya ada waktu nanti malam saja…”

Kenapa harus malam jalanan gelap gulita sedangkan Susi dan Indri tidak mau mengantarku. Aku diantar ojek meunju rumah dinas bapak Camat itu. Aku sangat polos dan lugu tukang ojek itu berpesan kepadaku,

“hati-hati mbak pak Camatnya genit suka sama yang cantik-cantik….”

Aku sama sekali tidak menghiraukan perkataan tukang ojek itu. Aku mengetuk pintu,

“permisi.. tok..tookk….”

“ya sebentar…”

Pak Camat membukakan pintu aku terkejut karena beliau hanya memakai celana kolor dan kaos dalam saja. Dengan cepat aku menutup mataku,

“kenapa kamu? Saya sudah biasa kok seperti ini. Masuk saja…”

Aku masuk tanpa berkata-kata dan duduk di ruang tamu. Aku dibuatkan teh hangat oleh pak Camat. Kita ngobrol sambil beliau menandatangi makalahku. Ternyata pak Camat tinggal sendiri dan istri anak di kota karena mereka enggan tinggal di desa. Aku minum teh buatannya tetapi aku tiba-tiba ngantuk berat. Rasanya mata udah tidak bisa di buka lagi.

Aku tertidur sebentar, aku tidak tau apa yang terjadi saat itu. Aku tertidur 15 menit dan kemudian pak Camat membangunkan aku, aku masih lemas. Dia mendekati ku dan duduk disebelahku. Dia mencium-cium leherku aku bergerak serasa ingin bangun tetapi aku nggak sanggup membuka mata. Bibirnya menciumi leherku tanganku bergerak ingin mendorong wajah pak Camat.

Tapi apalah daya semua usahaku tidak bisa, aku sangat lemas. Aku setengah sadar kala itu, aku lihat dia menciumiku. Aku menghempaskan wajahku,karena enggan dia cium. Namun pak Camat terus menikmati bibir tipisku, hingga aku merintih,

“aaaahhhhhhh……..”

Aku pasrah di kala malam itu, kumisnya yang tebal membuat geli. Bibirnya yang tajam it uterus mengulum bibirku. Pengaruh minuman yang aku minum itu membuat aku lemas tak berdaya. Dia terus menikmati tubuhku. Tanganya mulai menggerayangi tubuhku, dia membelai leher kemudian turun ke bawah. Hingga ke payudaraku dia belai dengan lembut.

Bajuku dia buka aku diam saja karena mata terpejam dan tidak memiliki kekuatan untuk menolak,

“aaaahhhhhh…aaaaaaaahhhhhh….aaaaahhhh…..” desahku dengan lirih

Kemudian pak Camat itu menciumi payudaraku yang semok. Dia terus mencoba mengecup kedua putting susuku. Bra ku di lepas payudaraku menggantung dengan sangat tegak. Tangannya meremas payudara hingg aku lemas. Putting susuku di mainkan menjadi semakin menegang. Putting susu sudah siap untuk dinikmati. Lidahnya menjulur menjilati putting susuku dan mengecupnya,

“aaaaaakkkhhh paaakkk…aaaaaaaaaaaaaahhhhhhh……”

Dia semakin beringas menikmati payudara perasan yang kencang itu. Kumisnya membuat semakin geli,

“ooohhhhhh…aaahhhhhhh…….”

Lalu dia menjilati seluuh tubuhku, badanku bergerak merasakan kenikmatan. Pusarku dia cium hingga aku semakin lemas. Celana panjangku dia lepas hingga kemaluankuterlihat jelas. Celana dalam itu pun dibuangnya entah kemana. Dia semakin nafsu melihat memekku yang masih polos itu. Belahan vaginapun dia buka lalu jarinya bermain di memekku,

“ooohh akkkhh pak…oooohhhh………”

Jarinya masuk ke dalam memekku secara perlahan, aku masih tetap terkapar di sofa itu.Kenikmatan itu membuat aku tak berdaya. Dia menjilati memekku dengan perlahan desahanku sangat keras,

“aaaaaahhhhhhhhhhhhh……aaaaaahhhhhh………..”

Dia dengan cepat berada diatasku dan menggesek-gesekkan penisnya. Memek perawanku bergesekan dengan penisnya yang panjang dan tegang itu. Aku merintih mata tetap terpejam sangat lama,

“ooohhh…aaahhhhhh…..aaaahhhhh….”

Setelah itu di amencoba memasukkan penisnya ke dalam memekku. Aku enggan dan menggerakkan tubuhku. Tetap saja aku tidak bisa menolaknya, secara perlahan dia masukkan penisnya ke dalam memekku. Karena masih perawan sulit untuk dimasuki penis. Dia berusaha dengan sekuat tenaga,

“aaawwww…aaaahhhh…..”

Ujung penis pria tua itu masuk ke dalam memekku,

“aaaaahhh…sakit…ooohhh….” Rintihku dengan lirih.

Dia menekan penisnya dan akhirnya masuk ke dalam lubang kenikmatan.

“jleeeebbbbb…aaasshhh…aaaaahhhhhhh”

Perlahan dia mendorong penisnya keluar masuk aku terus merintih kesakitan dan nikmat menjadi satu. Lalu dia menekan penisnya hingga aku terus merintih. Baru pertama kali ini aku diperawani orang, bahkan dia seumuran bapak aku. Mataku terpejam namun air mataku menetes membasahi pipi. Aku telanjang tubuhku menempel di tubuh pak Camat.

Malam itu aku pasrah tidak bisa menolak terus dia perawani aku. Penisnya yang besar itu menusuk-nusuk memekku. Nikmat dan sakit bercampur jadi satu, aku pun mengeluarkan cairan dari memekku banyak sekali,

“aaaahhhhhh pak…..oohhhhhhh…..”

Bibirnya masih saja menciumi putting susuku, sesekali dia sedot hingga rasanya mau lepas,

“aaaahhhhhhh…..ooohhhh….aaaaahhhhhhhhhh….”

Dan akhirnya dia mengeluarkan cairan dari penisnya dan dia semprotkan di tubuhku,

“cccccrrrooooooootttttt……cccccrrrrroooooottt….cccrrrroooottt…….”

Cairan yang banyak dan lengket membasahi tubuhku. Mataku masih saja terpejam aku enggan membuka mata. Aku tertidur hingga larut malam aku sadar, aku melihat tubuhkumasih telanjang tanpa baju. Aku menangis sambil memakai pakaian ku kembali dan pulang menuju rumah dengan berlari sembari meratapi nasib burukku.

Begitulah kisahku disemester akhir aku mendapat pengalaman yang sangat pahit. Aku diperkosa oleh pak camat ketika praktek didusun terpencil di saat aku meminta tanda tangan dari camat bejat yang memperkosa aku.Sekian.

Google Trends:

short url