Cerita Sex Bukan Karena Nafsu, Tapi Karena Cinta

Posted on

Selamat datang di Cerita Sex. saat ini Team Cerita sex ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Sex Bukan Karena Nafsu, Tapi Karena Cinta. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Sex Bukan Karena Nafsu, Tapi Karena Cinta

Jaya BET

RWIGOBET

Sbcc

Cerita Sex Bukan Karena Nafsu, Tapi Karena Cinta

Aku seorang musisi amatir, aku tinggal Yogyakarta. Pacarku, Dewita tinggal di Jakarta, dan kami sudah 3 tahun berhubungan antara serius dan tidak. Maksudnya kami serius pacaran, tapi kami sudah berkomitmen untuk sementara tidak terlalu terikat, karena kami yakin keterikatan akan menyebabkan kami tidak bisa menikmati hidup muda kami. Karena tempat tinggal kami berjauhan, jadi hanya sesekali saja aku bertemu muka dengan Dewita. Kalau pas liburan, Dewita kadang menjengukku ke Yogya, dan sebaliknya. Nah, saat-saat seperti itulah, cerita ini terjadi.

Saat itu aku sedang mengutak-atik not di piano elektrik temanku yang ditaruh di studio latihan di rumahku. Tiba-tiba suara piano itu jadi keras sekali, bikin aku kaget setengah mati. Aku sempat merinding, habis kan setahuku di rumah nggak ada orang. Jadi siapa dong yang membesarkan volume piano di ruang mixer? Dengan segan aku mengintip ke ruang mixer. Ruangan itu gelap sekali, cuma kelihatan lampu-lampu mixer dan sound processor saja. Pelan-pelan kuperiksa mixer-nya, ternyata memang volumenya besar sekali.

Cerita Sex Remaja | Saat itu aku bingung tentang siapa yang membesarkan kalau bukan hantu, tiba-tiba ada sesuatu yang melompati punggungku dan langsung saja membekap mulut dan mataku. Refleks saja aku menyikut penyerang itu, kena perutnya. Dia jatuh, dan langsung kupiting tangannya sambil aku menyalakan lampu. Ya ampun, ternyata Dewita yang mengisengi aku. Dia memakai jaket hitam, dan jeans ketat hitam juga. Matanya basah dan mukanya mengernyit kesakitan. Langsung kubangunkan dia sambil menggotong dia ke ruangan studio yang berkarpet tebal. Kubaringkan di karpet sambil mengusap keringatnya yang keluar sambil menahan rasa mualnya kena sikutku tadi.

“Aduh Dewita, ngapain sih kamu ngagetin aku kayak gitu?” Sambil menahan tangisnya,
“Kamu ini bukannya nolongin malah nyalahin aku. Makanya liat-liat dulu, baru gebuk. Untung nggak kena ulu hati. Kalau kena, pasti deh kamu seneng kalau aku mati, kehabisan napas. Biar kamu bisa cari yang lain kan.” Busyet nih anak cantik, lagi kesakitan sempat juga bercanda.
Jelas saja dong aku tersenyum.
“Aduh maafin aku ya sayang. Kamu juga sih, datang nggak ngasih kabar dulu. Kapan sampai di Yogya? Kok bisa masuk ke dalam? Kan pagarnya aku kunci”, kataku.
“Aku mau ngasih kejutan sama kamu. Aku sampe di Yogya tadi pagi jam 06.00. Terus naik taksi ke sini. Liat rumah kamu sepi, daripada ngebel malah nggak surprise lagi mendingan aku lompat pagar aja”, katanya.

Dasar Dewita ini memang orangnya cuek banget. Kadang-kadang kalau isengnya kumat, tomboy-nya mengalahkan laki-laki. Padahal aslinya feminin banget. Cantik, tinggi, lincah dan anggun juga bisa (tergantung saatnya). Kulitnya putih, dan badan yang tinggi untuk ukuran cewek, membuat dia bisa tampil cantik dengan gaya dan mode apapun.

“Maafin aku ya sayang. Kejutanmu berhasil, sayangnya terlalu berhasil. Maafin aku ya”, kataku sambil mengelus rambut hitamnya yang panjangnya sepunggung, dan dengan lembut aku mencium keningnya.
Setelah itu kami bercerita banyak mengenai kabar masing-masing. Dewita baru saja diterima di SMU 3, dan dia senang di sana. Aku juga cerita lagu-lagu yang baru band kami ciptakan dan latih selama ini sambil menyetelkan contoh lagu itu di CD player. Beberapa lagu lewat, dia manggut-manggut sambil bilang,

“Gab, lagunya bagus-bagus. Asyik juga buat goyang, nge-groove banget”, sambil meneruskan mendengar lagu berikutnya.
Aku keluar studio dulu, membuatkan es jeruk untuk kekasihku tercinta biar mualnya agak mendingan. Waktu aku balik Dewita memandangku sayu sambil bilang,
“indro sayang, puterin lagi lagu yang nomor 5 dong. Lagunya romantis banget. Aku jadi terharu dengerinnya.” Ya sudah, aku putarkan lagi ke track 5, lagunya memang lembut banget, romantis deh pokoknya.
Dewita berdiri sambil memegang tanganku,
“Dance with me, honey!”, pintanya.
Kupegang tangannya, lalu kami berdansa mengikuti alunan musik yang aku ciptakan. Sambil memeluknya, aku melihat matanya berlinang air mata.
“Kenapa Sayang?”, tanyaku.
“Enggak.., Cuma aku merasa betapa bahagianya apabila seseorang dicintai seperti lirik lagu itu.”
“Do you wanna know something, honey?”, tanyaku lagi.
“What is it, dear?”
“This song is written by me, to express how deep is my love.. just for you, honey!”, kataku.
“Oooh, indro.., What a wonderful gift from God you are for me”, sambil dia berbicara begitu, air matanya tambah deras dan pelukannya semakin erat serta dansanya tambah lembut. M
ataku jadi basah juga. Aku sangat mencintai Dewita. Kalau mungkin, biarlah seluruh hidupku aku jalani bersama dia.

Dewita minta lagu tersebut diulang terus, biar dansa kami tidak putus-putus dan liriknya bisa makin diresapi. Pelan-pelan sambil terlarut dalam indahnya lagu dan lembutnya dansa kami, Dewita mengangkat kepalanya dari dadaku dan mengecup lembut bibirku. Kecupannya lembut sekali. Mungkin kurang menyenangkan bagi yang cuma ingin seks saja. Tapi bagi yang saling mencinta, kecupan seperti itu jauh lebih kena di hati daripada apa yang terjadi sesudahnya.

Lampu studio yang cukup redup, alunan musik merdu yang keluar dari sound system yang keren dan kuat powernya (kebetulan tidak tembus keluar sehingga tidak mengganggu tetangga, karena studio musiknya kedap suara). Kami saling mengecup dengan lembut dalam waktu lama.
Sambil tetap berputar mengikuti irama lagu, Dewita berkata,
“indro my love, bercintalah denganku sayang. Di sini dan lakukan sekarang!”
Aku tersenyum dingin sambil berkata,
“Dewita, ma’af aku tidak bisa melakukannya”.
Dewita kaget,
“Kenapa sayang?”
“Aku tidak ingin bercinta denganmu, Aku hanya ingin mencintaimu. Bukan untuk berhubungan badan, tapi hanya mencintaimu sayang”.

Dia tersenyum, sambil melanjutkan kecupannya, namun kali ini tangannya mulai meraba-raba punggungku, dan bibirnya tidak menutup lagi, melainkan membuka untuk memberi jalan lidahnya menusuk bibirku. Aku pun bereaksi seperti layaknya seorang lelaki yang normal. Kuelus lembut punggungnya, kasar sekali. Jelas saja, wong masih pakai jaket jeans.
Pelan-pelan kubuka jaket hitamnya, dan memandang kaos ketatnya yang berwarna merah tanpa lengan, menonjolkan keindahan tubuh dan dadanya yang berukuran 34B. Tidak terlalu besar, cukup mungil tapi yang penting bagiku kencangnya bukan besarnya. Daripada seperti Pamella Anderson yang besar tapi tidak kencang.

Kujelajahi terus sekujur badan bagian atasnya. Kunikmati setiap jengkal dari tubuh indahnya. Mulai dari punggungnya, perlahan-lahan merayap ke pinggangnya, perutnya, dan dada indahnya. Di balik kaos merah ketatnya aku bisa melihat dan merasakan puting yang semakin mengeras dan menjulur keluar dari tempatnya, mencetak sempurna pada pembungkusnya. Kuputarkan jemariku di sekitar putingnya yang keras luar biasa, sambil berbisik lembut ke telinga Dewita.

“Coba rasakan, Dewita. Rasakan sentuhanku ini!”
“Mmmppphh.. mmppphh”, cuma itu bunyi yang keluar dari mulutnya, karena terlalu penuh imajinasinya oleh keindahan cinta kami berdua.

Walaupun begitu, dia memang bukan tipe cewek banyak bicara sedikit bertindak. Buktinya omongannya sedikit, tapi tanpa sadar tangannya meraba halus celana jeans-ku, melonjakkan batang kemaluanku dari kungkungan celana dalamku. Dia terus saja mengelus barang kesayangannya ini dengan semakin keras, seakan dia tahu persis bahwa celana jeans yang tebal itu menghalangi batang kemaluanku untuk merasakan kenikmatan belaian jemarinya.

“Oh Sayang, ijinkan aku menikmati burungmu. Akan kubuktikan bahwa segalanya hanya untuk kamu, indro.”
“Rasakan semuanya, Sayang. Lakukan apa yang kamu mau. Segala diriku adalah milikmu Dewita.”
“Demikian pula aku Sayang. Lakukan pada diriku apapun yang kamu inginkan. Dewita sayang kamu, indro.”

Setelah mendapat ijin darinya, langsung saja (tapi dengan tetap lembut) kubuka kaos ketat merahnya. Wah.. pantas saja putingnya menonjol sekali, dia tidak memakai bra.
“Wit, kamu kok nggak pakai bra sih? Panas ya?”
“Sengaja kubuka waktu kamu buatin es jeruk untukku. Tuh, branya aku lempar di belakang drum. Kalau kamu lebih suka branya, ambil aja. Tapi kalau lebih suka isinya tetaplah di sini sambil ekspresikan cintamu untukku.”

Wah, masa sih aku mentingin branya, kalau bisa malahan jangan pernah dia pakai bra lagi. Lagi pula payudara sekencang itu, untuk apa pakai bra lagi sih? Dewita pun tidak mau kalah. Dia membuka celana jeans-ku dengan agak terburu-buru. Sialnya ujung batang kemaluanku yang memang sudah keluar dari celana dalamnya terjepit retsleting.
“Aduh Dewita, hati-hati dong Sayang. Sakit kan.”
“Ya ampun, Gab.. burungmu sih yang nakal. Belum dibuka udah keluar duluan. Salah kamu sendiri.. eh enggak deh, salah kamu sih (katanya sambil menunjuk batang kemaluanku).”
“Wit, nanti kalau dimarahin dia ngambek lho.”
“He.. he.. he.. nggak deh. Bercanda kok ya sayang (sambil mengelus dan mengocok lembut batang kemaluanku).”
“Ssshh.. aduh Dewita. Nikmat sekali Sayang. Teruskan teruskan..”

Setelah sekian menit Dewita mengocok lembut batang kemaluanku, batang kemaluanku kini tegang sempurna. Setelah puas dikerjai Dewita, aku mengangkat dia ke atas piano. Kusuruh dia duduk di situ, setelah selesai kupeloroti celana jeans-nya yang juga ketat. Setelah penghalangnya tersingkirkan, barulah aku bisa sepuasnya menghirup harum tubuh kekasihku tercinta itu. Mulai dari dada, jilatanku berangsur-angsur menurun sampai ke daerah perutnya yang putih bersih.

Setelah itu, dengan tidak terburu-buru biar dia penasaran, aku menjilati bagian belakang lututnya, percayalah teman, ada sensasi tersendiri untuk wanita saat kita menjilati bagian ini. Dari situ jilatan naik ke paha depan, belakang, dan terakhir paha bagian dalam. Di situ jilatanku tidak cuma merambat lurus tapi berputar-putar. Mendekati liang kenikmatannya, menjauh lagi, mendekati lagi, menjauh lagi, mendekati lagi, menjauh lagi. Teman-teman, tidak akan ada cewek yang tidak penasaran saat diperlakukan selembut itu.

Sama seperti Dewita, dia sampai menangis karena sudah tidak dapat menahan nafsunya, sehingga dia nekad menarik rambutku ke arah liang kenikmatannya, saking semangatnya sampai daguku terbentur piano yang ditidurinya. Lidahku menjelajah bibir luar liang kenikmatannya dengan tetap lembut dan mesra, sebelum akhirnya kupuaskan dahagaku dan dahaganya dengan menyeruput (bukan menyedot lho. Seperti kita kalau mau minum teh yang masih panas, diseruput). Katanya setelah selesai, seruputan itu terasa nikmat sekali, seperti memakai vibrator tapi lebih nikmat lagi karena yang menggetarkan mulut cowoknya sendiri dan bukan mesin.

“Aduuhhh.. duuhhhh.. Ndro, kamu apain sih klitorisku? Aduuhhhh Ndro, lagi dong.. sshh nikmat banget tuh. Sssh Ndro.. Ndro.. Ndroooo.. aahhhhhh”. Akhirnya Dewita orgasme juga.

Dia memang tidak pernah berkata terus terang kalau mau orgasme. Dia lebih suka mengekspresikannya lewat sikap dan keributan seperti tadi itu. Melihat wajah Dewita yang bersimbah keringat, matanya yang tertutup, dan keningnya yang berkerut menahan rasa nikmat yang masih mendera otot-otot liang kenikmatannya, hatiku bahagia karena aku bisa menyenangkan dan memuaskan gairah seks kekasihku tercinta itu, walaupun aku belum sempat mendaratkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya.

Memang hingga kini aku belum pernah memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya karena aku sangat mencintainya, dan bagiku bercinta yang sesungguhnya (bersetubuh) saat pernikahan jauh lebih berarti daripada bercinta saat ini yang hanya berdasarkan nafsu belaka.

Google Trends:

agen bola tanpa deposit inibet188